Luwu Timur — Di tengah tuntutan pembangunan yang semakin kompleks, satu hal yang sering luput dari perhatian adalah data. Tanpa data yang akurat, kebijakan hanya menjadi spekulasi. Hal inilah yang mendorong Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Luwu Timur bergerak cepat menjalin sinergi dengan pemerintah daerah.

Rabu, 29 April 2026, Kepala BPS Luwu Timur, Abdullah Pannu, melakukan kunjungan kerja ke Dinas Perdagangan Koperasi UKM dan Perindustrian (Disdagkop UKMP). Pertemuan ini bukan sekadar agenda formal, tetapi bagian dari persiapan menghadapi Sensus Ekonomi 2026 yang akan dilaksanakan serentak di seluruh Indonesia.

Namun pertanyaannya, seberapa siap daerah menghadapi momentum besar ini?

Dalam pertemuan tersebut, BPS menegaskan bahwa keberhasilan sensus tidak hanya bergantung pada petugas lapangan. Justru, peran pemerintah daerah menjadi kunci, terutama dalam menyediakan data sektoral yang akurat, mutakhir, dan relevan. Tanpa itu, sensus berpotensi kehilangan arah dan hanya menjadi rutinitas lima tahunan tanpa dampak nyata.

Tak berhenti pada koordinasi, kegiatan ini juga diisi dengan sosialisasi menyeluruh terkait tujuan, manfaat, hingga tahapan pendataan. Harapannya, Disdagkop UKMP tidak hanya menjadi penonton, tetapi turut aktif dalam setiap proses yang berjalan.

Di sisi lain, penguatan data sektoral menjadi sorotan penting. Selama ini, persoalan klasik yang sering muncul adalah data yang tidak sinkron antarinstansi. Jika ini terus terjadi, maka kebijakan yang lahir berisiko tidak tepat sasaran.

Melalui sinergi antara data statistik dan data sektoral, diharapkan lahir informasi ekonomi yang lebih tajam. Data yang bukan hanya angka, tetapi mampu menjadi dasar kuat dalam merumuskan kebijakan pembangunan, baik di tingkat daerah maupun nasional.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Disdagkop UKMP Luwu Timur, Senfry Oktavianus, menyatakan dukungannya terhadap langkah BPS. Ia menegaskan komitmen pihaknya untuk ikut menyukseskan Sensus Ekonomi 2026.

Langkah ini menjadi sinyal positif. Namun publik tentu berharap lebih dari sekadar komitmen di atas kertas.

Karena pada akhirnya, pertanyaan besarnya tetap sama:

apakah sinergi ini benar-benar akan melahirkan data yang berkualitas, atau kembali terjebak dalam pola lama—rapat, rencana, lalu hilang tanpa hasil?

Jawabannya akan terlihat saat data benar-benar digunakan…bukan hanya dikumpulkan.